Kamis, 19 Desember 2019

Hasil Mini Riset Penduduk Banten Lama

LAPORAN STUDI KEBANTENAN
“Mini Riset Penduduk Masjid Agung Banten Lama”.
Dosen pengampu : Dr. Enggar Utari, M.Si.

         
Disusun Oleh:
                                                Atikadewi Laely Jannah         (2224180041)
                                                Fenti Maulana                         (2224180004)
                                                Ima Lutfiatul Magfiroh           (2224180035)
                                                Indah Virga Dhara Alifah       (2224180019)
                                                Mila Sinta Fajriah                   (2224180003)
                                                Nur Afria Ningsih                   (2224180016)
                                                Rohmah                                   (2224180043)

 KELAS: 3B
KELOMPOK 2


JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2019


KATA PENGANTAR

 Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga kami dapat menyusun laporan penelitian ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam laporan penelitian ini kami membahas penelitian mengenai respon pengunjung masjid agung banten lama.                                                                    
Laporan ini dibuat dengan berbagai observasi dan beberapa bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama mengerjakan laporan ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah telah membantu dalam penyusunan laporan ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada laporan ini. Oleh karena itu, kami mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan karya tulis ini selanjutnya. Akhir kata penulis berharap atas nama Tuhan Yang Maha Esa semoga laporan karya tulis ini dapat bermanfaat dan berguna bagi semua pihak.
         


DAFTAR ISI

Kata Pengantar..................................................................................................... i
Daftar Isi............................................................................................................. ii
BAB 1 PENDAHULUAN................................................................................. 1
1.1  Latar Belakang.................................................................................. 1
1.2  Rumusan Masalah............................................................................. 1
1.3  Tujuan .............................................................................................. 2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA........................................................................ 3
2.1   Kesultanan Banten............................................................................ 3

BAB 3 PEMBAHAHASAN.............................................................................. 5
3.1   Hasil Mini Riset................................................................................ 5

BAB 4 PENUTUP.............................................................................................. 7
4.1 Kesimpulan....................................................................................... 7
4.2 Saran................................................................................................. 7

Daftar Pustaka.................................................................................................. 8



BAB I
PENDAHULUAN


1.   Latar Belakang
            Masjid Agung Banten adalah salah satu masjid tertua di Indonesia yang penuh dengan nilai sejarah. Setiap harinya masjid ini ramai dikunjungi para peziarah yang datang tidak hanya dari Banten dan Jawa Barat, tetapi juga dari berbagai daerah di Pulau Jawa. Masjid ini dikenali dari bentuk menaranya yang sangat mirip dengan bentuk sebuah bangunan mercusuar. Masjid ini dibangun pertama kali pada 1556 oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sultan pertama dari Kesultanan Banten. Ia adalah putra pertama dari Sunan Gunung Jati.
            Seiring dengan berkembangnya kegiatan sejarah dan wisata di kawasan ini, telah terjadi dampak yang mengancam keberadaan berbagai jenis peninggalan kesultanan banten, baik yang berupa bangunan maupun objek-objek yang bukan bangunan. Hal ini disebabkan karena adanya wisatawan dan juga masyarakat setempat yang kurang memperhatikan tentang kelestarian kawasan ini. Seiring dengan berjalannya waktu, kawasan ini menarik dan menciptakan suatu sektor perdagangan informal yang kemudian saat ini telah menimbulkan kesan bahwa kawasan ini tidak terawat dan mengancam keberadaan bangunan serta objek-objek bersejarah karena lahan yang digunakan adalah lahan yang seharusnya dijaga kelestariannya. Permasalahan juga terlihat dari kurangnya sarana dan prasarana wisata yang ada dikawasan ini. Hal ini akan mempengaruhi pada kesan dan kepuasan wisatawan yang datang.


2. Rumusan Masalah
a)      Bagaimana sejarah Masjid Agung Banten Lama?
b)      Apakah pengunjung yang datang ke Masjid Agung Banten Lama merasa puas?
c)       Bagaimana keadaan lingkungan Masjid Agung Banten Lama?


3. Tujuan
a)      Untuk mengetahui sejarah Masjid Agung Banten Lama.
b)      Untuk mengetahui tingkat kepuasan pengunjung yang datang ke Masjid Agung Banten Lama.
c)      Untuk mengetahui keadaan lingkungan Masjid Agung Banten lama.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.      Kesultanan Banten
Tempat yang kami kunjungi pertama kali di Banten lama ialah situs kesultanan Banten, Keraton Kaibon. Hawa panas menyergap begitu kami tiba di situs tersebut. Sebelumnya, area ini merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Sunda Pajajaran dan baru menjadi kerajaan Islam sekitar abad ke-15. Sultan pertamanya bernama Maulana Hasanudin, putra Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Situs ini dulunya merupakan tempat tinggal ibunda Sultan Banten, Ratu Aisyah. Oleh sebab itu keraton ini disebut Kaibon atau Keibuan. Saat keraton yang menjadi tempat tinggal sultan rusak akibat perang melawan Belanda, Kaibon dijadikan pusat kesultanan Banten. Tahun 1832, Kaibon dihancurkan pemerintah kolonial Belanda yang dipimpin Gubernur Jendral Daendels. Saat ini, yang tersisa dari Keraton Kaibon hanya reruntuhan, pintu gerbang, serta dinding keraton. Kesultanan Banten adalah sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri di Provinsi Banten, Indonesia. Berawal sekitar tahun 1526, ketika Kerajaan Demak memperluas pengaruhnya ke kawasan pesisir barat Pulau Jawa, dengan menaklukan beberapa kawasan pelabuhan kemudian menjadikannya sebagai pangkalan militer serta kawasan perdagangan.
Maulana Hasanuddin, putera Sunan Gunung Jati berperan dalam penaklukan tersebut. Setelah penaklukan tersebut, Maulana Hasanuddin membangun benteng pertahanan yang dinamakan Surosowan, yang kemudian hari dibuat sebagai pusat pemerintahan setelah Banten dibuat sebagai kesultanan yang berdiri sendiri. Selama hampir 3 abad Kesultanan Banten mampu bertahan bahkan sampai kejayaan yang luar biasa, yang diwaktu bersamaan penjajah dari Eropa telah berdatangan dan menanamkan pengaruhnya. Perang saudara, dan persaingan dengan kecakapan global memperebutkan sumber daya maupun perdagangan, serta ketergantungan akan persenjataan telah melemahkan hegemoni Kesultanan Banten atas wilayahnya. Kecakapan politik Kesultanan Banten penghabisan runtuh pada tahun 1813 setelah sebelumnya Istana Surosowan sebagai simbol kekuasaan di Kota Intan dihancurkan, dan pada masa-masa penghabisan pemerintanannya, para Sultan Banten tidak lebih dari raja bawahan dari pemerintahan kolonial di Hindia Belanda.


BAB III
PEMBAHASAN

A.    Banten Sebelum Mengalami Renovasi
            Masjid yang sangat terkenal dan bersejarah di Banten, adalah Masjid Agung Banten. Sering menjadi top of mind tentang Banten. Masjid Agung Banten termasuk dalam wilayah Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang. Bangunan Masjid berbatasan dengan perkampungan di sebelah Utara, Barat, dan Selatan, alun –alun di sebelah Timur, dan benteng/Keraton Surosowan di sebelah Tengah. Arah ke sebelah utara dari pusat Kota Serang. Keadaan Masjid ini relatife terpelihara meskipun banyak yang sudah rusak. Bangunan Masjid Agung Banten, terdiri dari bangunan Masjid, dengan serambi pemakaman, di kiri dan kanannya bangunan Tiyamah, menara dan tempat pemakaman di halaman sisi utara.
            Bangunan Masjid Agung Banten merupakan suatu komplek dengan luas tanah 1,3 ha yang dikelilingi pagar tembak setinggi satu meter. Pada sisi tembok timur dan masing-masing terdapat dua buah gapura dibagian utara dan selatan yang letaknya sejajar. Bangunan Masjid menghadap ketimur berdiri diatas pondasi masif dengan ketingggian satu meter dari halaman. Bangunan ruang utama berdenah empat persegi panjang dengan ukuran 25 x 19 m. lantai terbuat dari ubin berukuran 30 x 30 cm berwarna hijau muda dan dibatasi dinding pada keempat sisinya. Dinding timur memisahkan ruang utama dengan serambi timur. Pada dinding ini terdapat empat pintu (dengan lubang angin) yang merupakan pintu masuk utama. Pintu terletak dengan bidang segi empat dari dinding yang menanjal berukuran 174 x 98 dengan dua daun pintu dari kayu. Bagian atas pintu berbentuk lengkung setengah lingkaran. Lubang angin pada dinding timur ada dua buah yang mengapit pintu, pintu paling selatan berbentuk persegi panjang dan di dalamnya terdapat hiasan motif kertas tempel, Dinding barat tersebut berhiaskan pelipit rata, penyangga, setengah Iingkaran dan pelipit cekung.
            Dinding sisi utara membatasi ruang utama dengan serambi utama dengan sebuah pintu masuk berbentuk empat persegi panjang ukuran 240 x 125 cm, berdaun pintu dua buah dari kayu. Jendela pada dinding utara dua buah dengan dua daun jendela berbentuk segi empat berukuran 180 x 152 cm. Sedangkan dinding selatan hanya mempunyai satu pintu yang menghubungkan ruang utama dengan pawestren di dekat sudut barat dinding.
           Masjid Agung Banten termasuk dalam wilayah Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang. Bangunan Masjid berbatasan dengan perkampungan di sebelah Utara, Barat dan Selatan, alun-alun di sebelah Timur, dan benteng / keraton Surosawan di sebelah Tengah. Bangunan lain yang ada di Masjid Agung Banten dimana diantaranya pada jarak 10 m dari kolam di bagian timur (depan) Masjid terdapat menara dengan tinggi 23 m. Menara ini diperkirakan dibangun abad ke 18 M dan dapat dimasuki sampai ke atas melalui 82 buah anak tangga. Di dalam menara terdapat empat pintu dan bentuknya sama dengan pintu masuk menara. Bangunan menara terbagi atas tiga bangunan yaitu kaki, tubuh dan kepala. Kolam berada di dalam serambi timur berbentuk persegi panjang terbagi atas empat kolam kotak yang dipisahkan oleh pematang tembok dan dihubungkan dengan lubang pada masing-masing pematang. Kolam berukuran 28,10 x 3,10m dan dalamnya antara 75-100 cm. Di sekeliling kolam terdapat tembok setinggi 1,29 m dan tebalnya 32 cm. Untuk mencapai kolam disediakan tangga turun sebanyak tiga buah anak tangga dari arah halaman dan lima anak tangga dari serambi timur. Selain terdapat kolam ada juga bangunan yang dinamakan Pawestren letaknya berdampingan dengan ruang utama. Pada dinding selatan terdapat pintu yang menghubungkan Pawestren dengan serambi pemakaman selatan. Lubang angin di dinding ini berbentuk segi tiga dan hanya sebagian terbuka karena tertutup atap makam selatan. Dinding barat Pawestren hanya terdapat lubang angin dengan bentuk kumpulan segi tiga dengan bunga di antaranya.
            Masjid Agung Banten didirikan pertama kali pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin dan dilanjutkan oleh putranya Sultan Maulana Yusuf pada tahun 1566 M atau bulan Zulhijjah 966 Hijriah. Bangunan Tiyamah merupakan bangunan tambahan yang letaknya di sebelah selatan Masjid. Bangunan ini mempunyai langgam arsitektur Belanda kuno. Di bangun oleh Hendrick Lucas Cardeel, seorang arsitek Belanda yang beragama Islam dan oleh sultan diberi gelar Pangeran Wiraguna. Menara Masjid Agung Banten dibangun oleh Lucas Cardeel, Menurut K.C Crucq berpendapat bahwa menara Masjid Agung Banten ini sudah ada sebelum tahun 1569/1570, bahkan berdasarkan tinjauan seni bangunan dan hiasannya, ia berkesimpulan menara ini didirikan pada pertengahan kedua abad XVI yaitu antara tahun 1560 sampai 1570.
            Bangunan-bangunan yang ada di komplek Masjid Agung Banten keadaannya masih terawat dan dikelola oleh Yayasan yang dipimpin oleh H. Tubagus Wasi Abbas.

B.     Banten Setelah Mengalami Renovasi
            MADINAH merupakan salah satu kota tujuan utama umat muslim melaksanakan ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Di areal tersebut, terdapat Masjid Nabawi yang cukup monumental, dengan aksesoris payung peneduhnya yang memiliki daya pikat luar biasa. Nuansa hampir sama juga dapat dirasakan di kawasan wisata religi Kesultanan Banten atau dikenal dengan sebutan Banten Lama.
            Di kawasan situs peninggalan kerajaan Banten tersebut terdapat reflika atap atau payung peneduh mirip dengan di Madinah. Wisata religi kawasan Kesultanan Banten memang sedang dipersiapkan sebagai salah satu tujuan wisata religi kelas dunia. Terlebih, selain arsitektur wajah barunya yang dipoles cukup memikat, Banten Lama memiliki daya tarik akan catatan sejarahnya yang hebat.
            Pada momentum tertentu seperti Hari Raya Idulfitri, Iduladha dan bulan Mulud dalam penanggalan Jawa, Banten Lama selalu ramai penziarah. Saat ini, kawasan Banten Lama cukup rapi. Pada zona inti, selain terdapat payung peneduh mirip di Masjid Nabawi Madinah, pada bagian lantai sudah terpasang marmer. Kanal sudah dihiasi dengan taman. Di sekitar Keraton Surowosan juga dipasang lampu hias, pagar dan tulisan raksasa.
            Kemudian, di Keraton Kaibon terdapat taman kecil yang dinamai Taman Keraton Kaibon. Jembatan didekatnya dicat warna-warni untuk menghilangkan kesan kekumuhan. Perubahan fisik pada Banten Lama akan lebih menarik kunjungan wisatawan.

Sebelum Masjid Banten Lama direnovasi


 Sebelum Masjid Banten Lama direnovasi

                                    http://simas.kemenag.go.id/index.php/profil/masjid/537/

1                     C.      Hasil Mini Riset
Hasil mini riset dengan wawancara langsung pada narasumber penduduk sekitar Masjid Agung Banten Lama, Serang Banten, kami mendapatkan narasumber yang sebagian besar bukanla penduduk asli daerah tersebut melainkan dari luar wilayah Kasemen bahkan luar provinsi Banten yang kemudian berprofesi sebagai pedagang di daerah sekitar tempat masjid agung Banten lama. Yang dimana mereka mengutarakan pendapat mereka mengenai tidak layak atau kurang nya tempat strategis untuk para pedagang disana tidak sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati dengan mereka, mulai dari lokasi yang tidak begitu rapih, pasar yang tidak begitu kondusif, infrastruktur yang kurang memadai namun jalan akses menuju masjid agung Banten lama sudah membaik dan dapat di jangkau oleh masyarakat atau para wisatawan lainnya. Namun pengelolaan sampah dan kebersihan disekitar masjid tersebut masih kurang teratur meskipun telah ada nya pengelolaan kebersihan. Air bersih dan sarana dan prasarana masjid agung Banten lama sudah dikelola dengan baik. Terdapat yang kita lihat saat melakukan riset disana khususnya pada tempat jual beli oleh-oleh terdapat banyak titik air menggenang disana. Hal ini memungkinkan dapat mengganggu para pengunjung saat ingin melakukan transaksi jual beli dan juga dapat dijadikan sarang nyamuk sehingga dapat memicu adanya penyakit DBD yang mengjangkit para pedagang yang berjualan dan para penduduk yang tinggal disekitar daerah tersebut. Pengunjung yang datang ke masjid agung Banten lama ada yang untuk berziarah ada pula yang hanya bermain dan berfoto-foto saja dan berpiknik bersama keluarga. Ada yang berbelanja oleh-oleh yang dijajakan disana. Oleh-oleh yang di jual di pasar nya juga masih khas daerah Banten ,namun juga masih banyak oleh-oleh khas Banten yang tidak dijual disana. Pembaharuan wajah masjid agung banten lama ini telah dibarengi juga dengan disediakannya tempat sampah disekitar masjid agung banten lama. Namun ketersediaan tempat sampah ini hanya pada daerah depan masjid agung saja tidakl menyeluruh smpai pada tempat penjualan oleh-oleh. Pedagang berharap adanya tempat sampah bukan hanya disekitar masjid agung saja, seharusnya juga terdapat tempat sampah di bagian-bagian tempat berjualan dan pusat oleh-oleh. Namun untuk petugas kebersihan di sana belum melaksanakan tugasnya dengan baik, sehingga masih ada saja sampah dimana-mana, mulai dari pintu masuk sampai pintu keluar. Di sekitar Mesjid Agung Banten Lama tersebut terdapat beberapa CCTV yang digunakan untuk memperlihat keadaan disekitar Mesjid Agung Banten lama tersebut.
Kelebihan di Masjid Agung Banten Lama ini, dari segi pedagang dapat mendapatkan penghasilan yang lumayan banyak apalagi saat hari-hari tertentu seperti weekend dan hari besar islam, hal yang yang biasanya diminati disana berupa kuliner khas Banten, gantungan kunci, gelang, perlengkapan ibadah seperti peci dan lain sebagainya,karena banyak pengunjung yang datang dari daerah luar Banten, yang dimana biasanya pada melakukan ziarah dan berpiknik bersama keluarga di Masjid Agung Banten Lama.


BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
        Berdasarkan hasil miniriset diatas, secara umum dapat disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat yang dekat dengan wilayah masjid agung Banten memiliki profesi sebagai pedagang. Dan akses jalan menuju masjid agung Banten lama sudah membaik dan dapat di jangkau oleh masyarakat atau para wisatawan lainnya. Namun pengelolaan sampah dan kebersihan disekitar masjid tersebut masih kurang teratur atau tidak ada nya pengelolaan kebersihan. Air bersih dan sarana dan prasarana masjid agung Banten lama sudah dikelola dengan baik.


B. Saran
Sebaiknya petugas kebersihan disekitar masjid agung Banten tidak hanya menyediakan tempat sampah disekitar pusat ziarah wisatanya saja, tetapi juga disekitar tempat berjualan dan pusat oleh-oleh.


DAFTAR PUSTAKA