LAPORAN STUDI KEBANTENAN
“Mini Riset Penduduk Masjid Agung Banten Lama”.
Dosen pengampu : Dr. Enggar Utari, M.Si.
Disusun Oleh:
Atikadewi
Laely Jannah (2224180041)
Fenti
Maulana (2224180004)
Ima
Lutfiatul Magfiroh (2224180035)
Indah
Virga Dhara Alifah (2224180019)
Mila
Sinta Fajriah (2224180003)
Nur
Afria Ningsih (2224180016)
Rohmah (2224180043)
KELAS: 3B
KELOMPOK
2
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2019
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang
Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga kami dapat
menyusun laporan penelitian ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam
laporan penelitian ini kami membahas penelitian mengenai respon pengunjung
masjid agung banten lama.
Laporan ini dibuat dengan berbagai observasi dan beberapa
bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan
selama mengerjakan laporan ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah telah membantu dalam
penyusunan laporan ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada laporan
ini. Oleh karena itu, kami mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun
demi kesempurnaan laporan karya tulis ini selanjutnya. Akhir kata penulis
berharap atas nama Tuhan Yang Maha Esa semoga laporan karya tulis ini dapat
bermanfaat dan berguna bagi semua pihak.
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar..................................................................................................... i
Daftar
Isi............................................................................................................. ii
BAB 1 PENDAHULUAN................................................................................. 1
1.1 Latar
Belakang.................................................................................. 1
1.2 Rumusan
Masalah............................................................................. 1
1.3 Tujuan
.............................................................................................. 2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA........................................................................ 3
2.1 Kesultanan
Banten............................................................................ 3
BAB 3 PEMBAHAHASAN.............................................................................. 5
3.1 Hasil
Mini Riset................................................................................ 5
BAB 4 PENUTUP.............................................................................................. 7
4.1
Kesimpulan....................................................................................... 7
4.2
Saran................................................................................................. 7
Daftar Pustaka.................................................................................................. 8
BAB
I
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Masjid
Agung Banten adalah
salah satu masjid tertua di Indonesia yang penuh dengan nilai sejarah. Setiap harinya masjid ini ramai
dikunjungi para peziarah yang datang tidak hanya
dari Banten dan Jawa Barat, tetapi juga dari berbagai daerah
di Pulau
Jawa. Masjid ini dikenali dari bentuk
menaranya yang sangat mirip dengan bentuk sebuah bangunan mercusuar. Masjid ini dibangun pertama kali
pada 1556 oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sultan pertama dari Kesultanan Banten. Ia adalah putra pertama dari Sunan Gunung Jati.
Seiring dengan berkembangnya
kegiatan sejarah dan wisata di kawasan ini, telah terjadi dampak yang mengancam
keberadaan berbagai jenis peninggalan kesultanan banten, baik yang berupa
bangunan maupun objek-objek yang bukan bangunan. Hal ini disebabkan karena
adanya wisatawan dan juga masyarakat setempat yang kurang memperhatikan tentang
kelestarian kawasan ini. Seiring dengan berjalannya waktu, kawasan ini menarik
dan menciptakan suatu sektor perdagangan informal yang kemudian saat ini telah
menimbulkan kesan bahwa kawasan ini tidak terawat dan mengancam keberadaan
bangunan serta objek-objek bersejarah karena lahan yang digunakan adalah lahan
yang seharusnya dijaga kelestariannya. Permasalahan juga terlihat dari
kurangnya sarana dan prasarana wisata yang ada dikawasan ini. Hal ini akan
mempengaruhi pada kesan dan kepuasan wisatawan yang datang.
2. Rumusan Masalah
a) Bagaimana sejarah
Masjid Agung Banten Lama?
b) Apakah pengunjung yang
datang ke Masjid Agung Banten Lama merasa puas?
c) Bagaimana keadaan
lingkungan Masjid Agung Banten Lama?
3. Tujuan
a) Untuk mengetahui
sejarah Masjid Agung Banten Lama.
b) Untuk mengetahui tingkat kepuasan
pengunjung yang datang ke Masjid Agung Banten Lama.
c) Untuk mengetahui keadaan lingkungan
Masjid Agung Banten lama.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.
Kesultanan
Banten
Tempat
yang kami kunjungi pertama kali di Banten lama ialah situs kesultanan Banten,
Keraton Kaibon. Hawa panas menyergap begitu kami tiba di situs tersebut.
Sebelumnya, area ini merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Sunda Pajajaran dan
baru menjadi kerajaan Islam sekitar abad ke-15. Sultan pertamanya bernama
Maulana Hasanudin, putra Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Situs ini
dulunya merupakan tempat tinggal ibunda Sultan Banten, Ratu Aisyah. Oleh sebab
itu keraton ini disebut Kaibon atau Keibuan. Saat keraton yang menjadi tempat
tinggal sultan rusak akibat perang melawan Belanda, Kaibon dijadikan pusat
kesultanan Banten. Tahun 1832, Kaibon dihancurkan pemerintah kolonial Belanda
yang dipimpin Gubernur Jendral Daendels. Saat ini, yang tersisa dari Keraton
Kaibon hanya reruntuhan, pintu gerbang, serta dinding keraton. Kesultanan
Banten adalah sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri di Provinsi Banten,
Indonesia. Berawal sekitar tahun 1526, ketika Kerajaan Demak memperluas pengaruhnya
ke kawasan pesisir barat Pulau Jawa, dengan menaklukan beberapa kawasan
pelabuhan kemudian menjadikannya sebagai pangkalan militer serta kawasan
perdagangan.
Maulana Hasanuddin, putera Sunan Gunung
Jati berperan dalam penaklukan tersebut. Setelah penaklukan tersebut, Maulana
Hasanuddin membangun benteng pertahanan yang dinamakan Surosowan, yang kemudian
hari dibuat sebagai pusat pemerintahan setelah Banten dibuat sebagai kesultanan
yang berdiri sendiri. Selama hampir 3 abad Kesultanan Banten mampu bertahan
bahkan sampai kejayaan yang luar biasa, yang diwaktu bersamaan penjajah dari
Eropa telah berdatangan dan menanamkan pengaruhnya. Perang saudara, dan
persaingan dengan kecakapan global memperebutkan sumber daya maupun
perdagangan, serta ketergantungan akan persenjataan telah melemahkan hegemoni
Kesultanan Banten atas wilayahnya. Kecakapan politik Kesultanan Banten
penghabisan runtuh pada tahun 1813 setelah sebelumnya Istana Surosowan sebagai
simbol kekuasaan di Kota Intan dihancurkan, dan pada masa-masa penghabisan
pemerintanannya, para Sultan Banten tidak lebih dari raja bawahan dari
pemerintahan kolonial di Hindia Belanda.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Banten
Sebelum Mengalami Renovasi
Masjid yang sangat terkenal dan bersejarah di Banten,
adalah Masjid Agung Banten. Sering menjadi top of mind tentang Banten. Masjid
Agung Banten termasuk dalam wilayah Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kabupaten
Serang. Bangunan Masjid berbatasan dengan perkampungan di sebelah Utara, Barat,
dan Selatan, alun –alun di sebelah Timur, dan benteng/Keraton Surosowan di
sebelah Tengah. Arah ke sebelah utara dari pusat Kota Serang. Keadaan Masjid
ini relatife terpelihara meskipun banyak yang sudah rusak. Bangunan Masjid
Agung Banten, terdiri dari bangunan Masjid, dengan serambi pemakaman, di kiri
dan kanannya bangunan Tiyamah, menara dan tempat pemakaman di halaman sisi
utara.
Bangunan
Masjid Agung Banten merupakan suatu komplek dengan luas tanah 1,3 ha yang
dikelilingi pagar tembak setinggi satu meter. Pada sisi tembok timur dan
masing-masing terdapat dua buah gapura dibagian utara dan selatan yang letaknya
sejajar. Bangunan Masjid menghadap ketimur berdiri diatas pondasi masif dengan
ketingggian satu meter dari halaman. Bangunan ruang utama berdenah empat
persegi panjang dengan ukuran 25 x 19 m. lantai terbuat dari ubin berukuran 30
x 30 cm berwarna hijau muda dan dibatasi dinding pada keempat sisinya. Dinding
timur memisahkan ruang utama dengan serambi timur. Pada dinding ini terdapat
empat pintu (dengan lubang angin) yang merupakan pintu masuk utama. Pintu
terletak dengan bidang segi empat dari dinding yang menanjal berukuran 174 x 98
dengan dua daun pintu dari kayu. Bagian atas pintu berbentuk lengkung setengah
lingkaran. Lubang angin pada dinding timur ada dua buah yang mengapit pintu,
pintu paling selatan berbentuk persegi panjang dan di dalamnya terdapat hiasan
motif kertas tempel, Dinding barat tersebut berhiaskan pelipit rata, penyangga,
setengah Iingkaran dan pelipit cekung.
Dinding
sisi utara membatasi ruang utama dengan serambi utama dengan sebuah pintu masuk
berbentuk empat persegi panjang ukuran 240 x 125 cm, berdaun pintu dua buah
dari kayu. Jendela pada dinding utara dua buah dengan dua daun jendela
berbentuk segi empat berukuran 180 x 152 cm. Sedangkan dinding selatan hanya
mempunyai satu pintu yang menghubungkan ruang utama dengan pawestren di dekat
sudut barat dinding.
Masjid
Agung Banten termasuk dalam wilayah Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kabupaten
Serang. Bangunan Masjid berbatasan dengan perkampungan di sebelah Utara, Barat
dan Selatan, alun-alun di sebelah Timur, dan benteng / keraton Surosawan di
sebelah Tengah. Bangunan lain yang ada di Masjid Agung Banten dimana
diantaranya pada jarak 10 m dari kolam di bagian timur (depan) Masjid terdapat
menara dengan tinggi 23 m. Menara ini diperkirakan dibangun abad ke 18 M dan
dapat dimasuki sampai ke atas melalui 82 buah anak tangga. Di dalam menara
terdapat empat pintu dan bentuknya sama dengan pintu masuk menara. Bangunan
menara terbagi atas tiga bangunan yaitu kaki, tubuh dan kepala. Kolam berada di
dalam serambi timur berbentuk persegi panjang terbagi atas empat kolam kotak
yang dipisahkan oleh pematang tembok dan dihubungkan dengan lubang pada
masing-masing pematang. Kolam berukuran 28,10 x 3,10m dan dalamnya antara
75-100 cm. Di sekeliling kolam terdapat tembok setinggi 1,29 m dan tebalnya 32
cm. Untuk mencapai kolam disediakan tangga turun sebanyak tiga buah anak tangga
dari arah halaman dan lima anak tangga dari serambi timur. Selain terdapat
kolam ada juga bangunan yang dinamakan Pawestren letaknya berdampingan dengan
ruang utama. Pada dinding selatan terdapat pintu yang menghubungkan Pawestren
dengan serambi pemakaman selatan. Lubang angin di dinding ini berbentuk segi
tiga dan hanya sebagian terbuka karena tertutup atap makam selatan. Dinding
barat Pawestren hanya terdapat lubang angin dengan bentuk kumpulan segi tiga
dengan bunga di antaranya.
Masjid
Agung Banten didirikan pertama kali pada masa pemerintahan Sultan Maulana
Hasanuddin dan dilanjutkan oleh putranya Sultan Maulana Yusuf pada tahun 1566 M
atau bulan Zulhijjah 966 Hijriah. Bangunan Tiyamah merupakan bangunan tambahan
yang letaknya di sebelah selatan Masjid. Bangunan ini mempunyai langgam
arsitektur Belanda kuno. Di bangun oleh Hendrick Lucas Cardeel, seorang arsitek
Belanda yang beragama Islam dan oleh sultan diberi gelar Pangeran Wiraguna.
Menara Masjid Agung Banten dibangun oleh Lucas Cardeel, Menurut K.C Crucq
berpendapat bahwa menara Masjid Agung Banten ini sudah ada sebelum tahun
1569/1570, bahkan berdasarkan tinjauan seni bangunan dan hiasannya, ia
berkesimpulan menara ini didirikan pada pertengahan kedua abad XVI yaitu antara
tahun 1560 sampai 1570.
Bangunan-bangunan yang ada di komplek Masjid Agung
Banten keadaannya masih terawat dan dikelola oleh Yayasan yang dipimpin oleh H.
Tubagus Wasi Abbas.
B. Banten
Setelah Mengalami Renovasi
MADINAH merupakan salah satu kota tujuan utama umat
muslim melaksanakan ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Di areal tersebut,
terdapat Masjid Nabawi yang cukup monumental, dengan aksesoris payung peneduhnya
yang memiliki daya pikat luar biasa. Nuansa hampir sama juga dapat dirasakan di
kawasan wisata religi Kesultanan Banten atau dikenal dengan sebutan Banten
Lama.
Di
kawasan situs peninggalan kerajaan Banten tersebut terdapat reflika atap atau
payung peneduh mirip dengan di Madinah. Wisata religi kawasan Kesultanan Banten
memang sedang dipersiapkan sebagai salah satu tujuan wisata religi kelas dunia.
Terlebih, selain arsitektur wajah barunya yang dipoles cukup memikat, Banten
Lama memiliki daya tarik akan catatan sejarahnya yang hebat.
Pada
momentum tertentu seperti Hari Raya Idulfitri, Iduladha dan bulan Mulud dalam
penanggalan Jawa, Banten Lama selalu ramai penziarah. Saat ini, kawasan Banten
Lama cukup rapi. Pada zona inti, selain terdapat payung peneduh mirip di Masjid
Nabawi Madinah, pada bagian lantai sudah terpasang marmer. Kanal sudah dihiasi
dengan taman. Di sekitar Keraton Surowosan juga dipasang lampu hias, pagar dan
tulisan raksasa.
Kemudian,
di Keraton Kaibon terdapat taman kecil yang dinamai Taman Keraton Kaibon.
Jembatan didekatnya dicat warna-warni untuk menghilangkan kesan kekumuhan.
Perubahan fisik pada Banten Lama akan lebih menarik kunjungan wisatawan.
Sebelum Masjid Banten Lama direnovasi
Sebelum Masjid Banten Lama direnovasi
1 C.
Hasil
Mini Riset
Hasil
mini riset dengan wawancara langsung pada narasumber penduduk sekitar Masjid Agung
Banten Lama, Serang Banten, kami mendapatkan narasumber yang sebagian besar
bukanla penduduk asli daerah tersebut melainkan dari luar wilayah Kasemen
bahkan luar provinsi Banten yang kemudian berprofesi sebagai pedagang di daerah
sekitar tempat masjid agung Banten lama. Yang dimana mereka mengutarakan
pendapat mereka mengenai tidak layak atau kurang nya tempat strategis untuk
para pedagang disana tidak sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati
dengan mereka, mulai dari lokasi yang tidak begitu rapih, pasar yang tidak
begitu kondusif, infrastruktur yang kurang memadai namun jalan akses menuju
masjid agung Banten lama sudah membaik dan dapat di jangkau oleh masyarakat
atau para wisatawan lainnya. Namun pengelolaan sampah dan kebersihan disekitar
masjid tersebut masih kurang teratur meskipun telah ada nya pengelolaan
kebersihan. Air bersih dan sarana dan prasarana masjid agung Banten lama sudah
dikelola dengan baik. Terdapat yang kita lihat saat melakukan riset disana
khususnya pada tempat jual beli oleh-oleh terdapat banyak titik air menggenang
disana. Hal ini memungkinkan dapat mengganggu para pengunjung saat ingin
melakukan transaksi jual beli dan juga dapat dijadikan sarang nyamuk sehingga
dapat memicu adanya penyakit DBD yang mengjangkit para pedagang yang berjualan
dan para penduduk yang tinggal disekitar daerah tersebut. Pengunjung yang
datang ke masjid agung Banten lama ada yang untuk berziarah ada pula yang hanya
bermain dan berfoto-foto saja dan berpiknik bersama keluarga. Ada yang
berbelanja oleh-oleh yang dijajakan disana. Oleh-oleh yang di jual di pasar nya
juga masih khas daerah Banten ,namun juga masih banyak oleh-oleh khas Banten
yang tidak dijual disana. Pembaharuan wajah masjid agung banten lama ini telah
dibarengi juga dengan disediakannya tempat sampah disekitar masjid agung banten
lama. Namun ketersediaan tempat sampah ini hanya pada daerah depan masjid agung
saja tidakl menyeluruh smpai pada tempat penjualan oleh-oleh. Pedagang berharap adanya
tempat sampah bukan hanya disekitar masjid agung saja, seharusnya juga terdapat
tempat sampah di bagian-bagian tempat berjualan dan pusat oleh-oleh. Namun
untuk petugas kebersihan di sana belum melaksanakan tugasnya dengan baik,
sehingga masih ada saja sampah dimana-mana, mulai dari pintu masuk sampai pintu
keluar. Di sekitar Mesjid Agung Banten Lama tersebut terdapat beberapa CCTV
yang digunakan untuk memperlihat keadaan disekitar Mesjid Agung Banten lama
tersebut.
Kelebihan di Masjid Agung Banten Lama ini, dari
segi pedagang dapat mendapatkan penghasilan yang lumayan banyak apalagi saat
hari-hari tertentu seperti weekend dan hari besar islam, hal yang yang biasanya
diminati disana berupa kuliner khas Banten, gantungan kunci, gelang,
perlengkapan ibadah seperti peci dan lain sebagainya,karena banyak pengunjung
yang datang dari daerah luar Banten, yang dimana biasanya pada melakukan ziarah
dan berpiknik bersama keluarga di Masjid Agung Banten Lama.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil
miniriset diatas, secara umum dapat disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat
yang dekat dengan wilayah masjid agung Banten memiliki profesi sebagai
pedagang. Dan akses jalan
menuju masjid agung Banten lama sudah membaik dan dapat di jangkau oleh
masyarakat atau para wisatawan lainnya. Namun pengelolaan sampah dan kebersihan
disekitar masjid tersebut masih kurang teratur atau tidak ada nya pengelolaan
kebersihan. Air bersih dan sarana dan prasarana masjid agung Banten lama sudah
dikelola dengan baik.
B. Saran
Sebaiknya
petugas kebersihan disekitar masjid agung Banten tidak hanya menyediakan tempat
sampah disekitar pusat ziarah wisatanya saja, tetapi juga disekitar tempat
berjualan dan pusat oleh-oleh.
DAFTAR PUSTAKA


